Karya : Fahrizal sukardi
“yeeeaayyy..”
teriak semua murid yang sedang melempar jas sekolah kesayangan mereka.
Pada saat itu pengumuman kelulusan sekolah baru saja diumumkan, setelah kami
semua melewati banyak ujian, akhirnya kami bisa lulus.
“Kamu
mau melanjutkan kuliah di mana”. Pertanyaan itu yang sering ditanyakan semua
teman-teman yang baru lulus, guru pun juga menanyakan hal yang sama. Beberapa
ada yang ingin melanjutkan di universitas favorit, langsung kerja, bahkan ada
yang langsung menikah.
Gue bersama sahabat gue bahri, rencana ingin melanjutkan di kampus yang sama.
Karena kami memang sudah lama berteman sejak kecil. Bahkan saat baru lahir,
ranjang kami bersebalahan, dan kami selalu bertegur sapa dan bermain dengan
para suster.
Dua hari
berikutnya setelah pengumuman kelulusan di sekolah, kami menunggu pengumuman
ujian perguruan tinggi. Di sini bahri memang terlihat sangat tegang, karena
memang orangtua bahri terbilang agak kejam. Pernah bahri mendapat nilai jelek
dalam ulangan matematika, orangtuanya langsung menghukum bahri untuk membuat
candi selama satu malam. Ya memang kejam.
“aris, gimana nih kalau kita nggak lulus?” Tanya bahri
sambil melakukan gerakan sikap lilin.
“ya kita kan bisa ikut tes di kampus lain ri” jawab gue santai sambil terus
asik bermain game di android gue.
“lu mah enak ris, orangtua lu gak marah kalo lu gak lulus, mereka malah
mendukung lu, nah gue kalau nggak bisa nurutin kemauan orangtua gue, bisa
dikembaliin ke Rahim ibu gue lagi”.
“nggak segitunya juga kali ri, ntar gue bantuin ngomong sama orangtua lu deh,
mereka juga pasti bisa maklumin itu”.
“oke deh ris.”
“lagian lu ngapain sikap lilin gitu sih, risih tau gue ngeliatnya”. Tanya gue
sama bahri yang gue mulai liat ekspresinya mulai aneh.
“ohh.. ini gue susah buang air besar dari kemarin ris, makanya gue sikap lilin
biar pencernaan di…” belum selesai bahri menyelesaikan kalimatnya, bau tak
sedap mulai muncul dibarengi dengan suara indah yang bersenandung. Dan gue
sadar bahwa bahri telah mengeluarkan sesuatu dari perutnya saat itu.
Waktu yang dinantikan pun tiba, yaitu pengumuman kelulusan
di universitas. Pengumuman waktu itu dimulai pada jam 2 siang, dan kami terus
melihat jam yang makin lama makin dekat menuju angka 2. Bahri mulai terlihat
tegang, dia terus berdoa dan bahkan sampai membaca teks proklamasi.
“ris gue deg-degan nih, gimana kalau gue gak lulus? ntar gue
gak dapet kuliah, terus gue gak dapet istri karena gue miskin, dan orangtua gue
ngejual gue ke Uzbekistan, terus gue sendiri di sana, terus…”
“ssstttt…”. Jawab gue sambil meletakkan Jari telunjuk ke mulut bahri dan
menatap matanya dalam.
”tenang aja ri, kita pasti lulus kok, kita kan udah
berusaha dan berdoa selama ini, jadi kita percayakan saja sama Tuhan". Bahri
pun mulai tenang dan kita berdua berpelukan. Saat itu gue merasa bersalah
dengan perbuatan gue yang tidak senonoh ini.
Detik demi detik kami menunggu, Dan jarum jam pun berhenti
di angka dua. Kami berdua pun saling menatap satu sama lain.
“lu duluan deh ri yang liat” kata gue dengan nada yang tegang.
“loh kok jadi gue sih, lu dulu deh ris”. jawab bahri yang gak kalah tegang nya
dari gue.
“lu dulu pokoknya”jawab gue gak mau kalah.
“lu dulu…”
Selama 5 menit kita saling menunjuk satu sama lain. Dan akhirnya gue pun
mengalah. Gue mulai mengetik nomor pendaftaran dan meng-klik enter.
“yyeeahhh… gue luluuss!!” teriak gue kesenangan saat melihat
hasil nya.
“Selamat ya ris..” ucap bahri yang juga ikut senang. “oke sekarang giliran
gue”. Tangan bahri mulai mengetik nomor pendaftarannya dan ketika dia melihat
hasilnya. LULUS.
Bahri terdiam sejenak.
“yeaahh gue lulus!!” teriak bahri heboh. Bahri pun keluar rumah dan
teriak-teriak sambil mengayun-ayunkan celananya, dan berakhir dengan lemparan
gayung dari para tetangga.
Kami sangat senang dan bersyukur bahwa kami bisa lulus. Melihat
bagaimana perjuangan kami sebelumnya benar-benar terbayarkan.
Gue dan bahri bukan tipe orang yang suka belajar. Kami sering berbuat onar dan
bolos di sekolah, bahkan kami sering mengerjai guru yang kami anggap
membosankan ketika mengajar. Dan itu sebabnya kami selalu dibilang sampah
masyarakat oleh teman-teman kami, bahkan orangtua. Itu kenapa orangtua bahri
sangat kejam kepadanya, melihat perbuatan bahri seperti itu.
Tetapi kami selalu berpikir apakah kami harus terus
melakukan itu selamanya. Itu yang sampai ada di pikiran kami. Akhirnya kami
sadar bahwa kami tidak boleh terus seperti ini, dan mulai belajar keras, dan
mengikuti banyak les demi menyusul ketertinggalan, walaupun banyak sekali
cobaan dan hinaan dari teman-teman kami yang bilang bahwa kami tidak akan
mampu.
Tapi kami berdua selalu berusaha untuk membuktikan bahwa sampah masyarakat
seperti kami juga bisa berubah untuk menjadi seseorang yang berguna. Dan
akhirnya kami berdua membuktikannya, yaitu dengan hasil lulus dari universitas.
“ternyata perjuangan kita nggak sia-sia ya ris” ucap bahri
“iya ri, kita bisa membuktikan kepada mereka, kalau kita juga bisa seperti
mereka” jawab gue.
Gue ketawa kecil. Bahri juga ketawa kecil. seiring dengan tawa kami berdua,
kami pun langsung mendatangi orangtua kami, dan memberi tau tentang hasil
pengumuman tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar