Sudah 1 tahun lebih gue
pacaran sama bella. Dan sifat aslinya mulai Nampak seiring berjalannya waktu.
Gue udah gak tau harus bagaimana lagi untuk menyikapinya. Seolah-olah dia itu
adalah gabungan dari semua gebetan yang gue benci.
“Angga,
kamu mau gak anterin aku ke mall beli baju?” katanya berbicara di telfon.
“tapi kan baju kamu udah banyak” jawab gue ngeluh.
“baju aku itu sedikit, kamu emang gak ngeliat di rumah aku, Cuma 1 lemari ga, 1
lemari. Terus…”
Tut tut tut.
Gue langsung mematikan handphone. Kalau dia berbicara entah menghabiskan waktu
berapa lama untuk mendengar ocehannya itu. Sifatnya yang boros itu
perlahan-lahan muncul. Padahal saat kami berpacaran dulu, dia tidak seboros
ini.
“bel, kamu mau aku
beliin apa? boneka? cincin? atau apa terserah kamu” tanyaku yang berjalan di
sampingnya itu.
“nggak usah ga, aku gak mau ngerepotin kamu, mending uang kamu disimpan aja
buat tabungan untuk masa depan kita nanti” jawabnya sambil tersenyum kecil.
Seketika wajah gue saat itu memerah seperti kulit hellboy.
Tetapi nyatanya dia tidak seperti yang gue harapkan.
“kok kamu mutusin
teleponnya sih!” ucapnya saat gue baru membalas teleponnya.
“tadi tiba-tiba tower sinyal di dekat rumah aku rubuh, jadi mati deh.” Jawab
gue mencari alasan.
“kamu nih ya kalau ngomong sama aku selalu begitu, kamu emang gak tau saat kita
dulu…”
Tut tut tut.
Ternyata tower sinyal di dekat rumah gue benar-benar rubuh.
Tidak hanya boros,
bella orang yang sangat cerewet. Beda ketika kita pdkt dulu. Dia sangat pendiam
dan pemalu, seperti gadis desa. Tetapi nyatanya sekarang dia lebih mirip dengan
raja terakhir di resident evil. Cerewet dan kejam.
Kami menjalani hubungan
ini sudah tidak seperti dulu lagi. Diawal pacaran kami sangat bahagia sekali,
seperti anak kecil yang mendapat uang dari sisa belanja ibunya. Kami berdua
sering nonton bareng, jalan bareng, bahkan tidur bareng. Tetapi beda rumah loh.
Perlahan-lahan gue
mulai berpikir bahwa gue ingin putus dari bella. Tapi gue mengambil jalan yang
salah. Gue tidak putus dengan dia. Tetapi gue mencoba untuk selingkuh. Gue tau kalau itu salah. Tetapi entah kenapa hati gue berkata lain. Gue
berpikir selama bella gak tau gue selingkuh, kayaknya gak apa-apa gue melakukan
itu. Dan ternyata gue salah besar.
Bella mulai merasa aneh
dengan tingkah laku gue belakangan ini. Seolah-olah dia tau kalau gue selingkuh
dari dia. Memang pada saat itu gue sedang dekat dengan teman sekelas gue di
kampus. Dia mirip sekali seperti bella saat gue pdkt dengannya dulu.
“aku pinjam handphone
kamu dong” ucap bella yang tiba-tiba memecah keheningan.
“Kamu kan ada handphone, ngapain pinjam handphone aku segala” jawab gue cuek
sambil terus menyetir.
“kan aku mau liat doang, kamu selingkuh ya?”
Gue langsung kaget. “kok kamu bilang gitu sih, kamu gak percaya sama aku”.
“Aku baca di majalah wanita kalau ciri-ciri orang selingkuh itu nggak mau
minjemin handphone ke pacarnya, kayak kamu nih”
“Masa kamu percaya sih sama majalah begituan” jawab gue agak panik. Kalau dia
tau gue selingkuh bisa gawat. Gue mulai melihat di sekeliling. Berharap tidak
ada benda yang tajam, jadi kalau dia marah dia tidak menusuk-nusuk mata gue.
“sini handphone kamu”,
dia mengambil handphone gue dengan paksa, yang pada saat itu gue taruh di
kantong celana gue.
“kamu ngapain sih? ini aku lagi nyetir tau, nanti bisa celaka” ucap gue sambil
mulai melakukan gerakan-gerakan agar dia tidak bisa mengambil handphone gue.
“aaahhhh…, hati-hati kamu salah megang nanti” teriak gue dengan pasrah.
Jika
gue melakukan gerakan-gerakan yang tidak perlu lagi, gue takut nanti berakhir
dengan tragis. Akhirnya gue pasrah dia mengambil handphone gue.
“nahh dapet, aku mau
liat apa yang kamu sembunyiin dari aku” jawab dia dengan semangat
“gak ada kok sayang, beneran deh, percaya aja sama aku” jawab gue yang mencoba
agar dia tidak melihat chatting gue sama anggun.
Gue mulai panik. Kali ini gue terus berpikir alasan apa yang akan gue bilang ke
dia. Pikiran gue saat itu campur aduk.
Kami berdua terdiam.
Gue mencuri-curi
pandang ke bella dan melihat kalau dia tidak menemukan chattingan gue sama
anggun. Tiba-tiba saja air mata bella mengalir.
“kok kamu tega sih sama aku” ucapnya dengan tersedu-sedu, air matanya
perlahan-lahan keluar.
“tega gimana sih maksud kamu? aku gak ngerti deh”. Jawab gue dengan wajah yang
bego, seakan-akan gue gak tau apa yang terjadi.
“Ini siapa..? kok kamu chattingannya mesra gini, kamu kok berani sih
selingkuhin aku!!” teriak dia sambil menangis.
Pikiran gue saat itu sangat kacau, gue udah gak tau harus ngomong apa lagi.
“itu nenek aku bella..” jawab gue panik.
“masa kamu chattingan sama nenek kamu mesra gini, lagian nenek kamu kan udah
meninggal.”
“dia bangkit lagi”.
Kami bertengkar sangat
lama pada saat itu. Bahkan gue lupa ke mana tujuan gue dengan bella saat itu.
Gue hanya mengendarai mobil tanpa arah tujuan. Gue mulai menjelaskan ke dia,
kenapa gue selingkuh.
“Kenapa kamu gak bilang
ke aku aja sih, kenapa harus dengan cara selingkuh” jawab dia dengan pelan. Air
matanya perlahan mulai berhenti.
“iya maaf. Aku salah, gak seharusnya aku selingkuhin kamu” ucap gue dengan rasa
yang sangat bersalah.
Kami terdiam sejenak.
Dan bella pun membuka
suaranya. “kayaknya kita putus aja deh, kita udah gak bisa lanjut”.
Gue terdiam. Saat itu gue tidak berbicara apa-apa. Dan bahkan gue tidak membela
diri ataupun menjawab keputusan bella itu. Suasana sangat hening dan hanya
terdengar rintik hujan. Gue langsung mengantarnya ke rumah. Bahkan kami sudah
lupa ke mana tujuan kami sebenarnya.
Bella masuk ke rumah
tanpa berkata satu kata pun. Dan gue mengendarai mobil gue lagi untuk pulang ke
rumah. Selama perjalanan gue mulai berpikir, betapa kejamnya gue. Bahkan gue
merasa bahwa gue yang sangat kejam terhadapnya. Dan gue terus menyesali
perbuatan gue ini.
Sampai di rumah. gue
mulai membuka handphone gue. Melihat chattingan gue dengan anggun. Terlintas di
pikiran gue, dalam hati gue terus berkata kenapa gue tega melakukan ini. Gue mencari-cari kontak
bella dan mencoba untuk meneleponnya, dan dia tidak menjawab. Gue mencoba untuk
mengirimnya pesan. Dan Meminta maaf kepadanya. Gue menghadap ke langit-langit
kamar, sambil menunggu balasan dari bella. Berharap dia bisa memaafkan gue. Dan
mengulang kembali hubungan ini.